Jan 232011
 
Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz

Seusai pelantikannya sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz berbicara empat mata dengan istrinya, Fatimah, “Istriku, kini aku telah diberi amanah untuk memimpin umat. Aku sangat takut durhaka kepada Allah akibat menyalah-gunakan harta negara yang dimanahkan kepadaku, atau lalai dalam kepemimpinanku. Tugas kekhalifahan ini sangat berat dan amat membebaniku. Untuk itu, aku mempersilahkan kamu memilih: apakah tetap menjadi istri Khalifah yang pekerjaannya sangat berat, sehingga perhatiannya kepada anak isteri berkurang, namun penghasilannya justru akan dikurangi dan pas-pasan; atau kamu memilih masa depanmu sendiri dengan segala konsekuensinya?”

Fatimah yang berlatar belakang keluarga kaya raya ternyata tetap memilih mendampingi suami dengan segala beban-beban dan kesederhanaannya.

Ternyata apa yang dikatakan suaminya benar. Sejak suaminya menjadi Khalifah, ia dan keluarganya justru kerap kelaparan. Apabila perutnya keroncongan karena lapar, dan persendiannya gemetar karena kedinginan, Fatimah hanya berucap, “Ah, seandainya saja suamiku tidak menjadi Khalifah… Demi Allah, kami belum pernah merasakan kebahagiaan sejak jabatan Khalifah dibebankan kepada kami…”

Suatu hari, ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz pulang dari inspeksi ke rumah-rumah rakyatnya, dia merasa aneh karena puteri kesayangannya yang biasa menyambutnya dengan peluk dan ciuman sayang, kali ini menghindar, menjauhi sang ayah sambil menutup mulutnya dengan jilbabnya.
Melihat hal itu, Umar bertanya kepada istrinya dengan nada curiga, “Istriku, mengapa dia menutup mulutnya, apa ada sesuatu yang diharamkan Allah yang telah dimakannya.???”
Mendengar pernyataan suaminya yang bernada gelisah, istri Khalifah menjawab, “Tenang suamiku, puterimu tidak memakan sesuatu yang subhat, apalagi haram. Ia baru saja memakan bawang untuk mengganjal perutnya yang lapar, karena di rumah tidak ada sesuatupun untuk dimakan…”

Mendengar jawaban istrinya, Umar bin Abdul Aziz menangis, air matanya mengalir membasahi pipinya. “Sabar ya, istri dan anak-anakku…”

Suatu hari, sahabat Umar, Muhammad bin Ka’ab Al-Qurthy, datang bersilaturahim ke rumahnya.  Muhammad kaget dan sedih melihat kondisi sang Khalifah, penguasa Islam yang sukses mensejahterakan rakyatnya, sehingga negerinya sangat makmur dan berlimpah kekayaannya. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh negeri-negeri teluk dan sekitarnya, termasuk Iran dan negeri-negeri di Afrika Utara. Betapa tidak, Umar yang sebelum menjabat Khalifah tubuhnya besar tegap berkulit putih bersih, setelah menjadi Khalifah justru menjadi kurus dan kulitnya menjadi kusam. Muhammad memandangnya dengan tak berkedip.

Khalifah pun lantas bertanya, “Muhammad, mengapa engkau memandangku dengan tatapan seperti itu?”
“Aku heran, wahai Amirul Mukminin,” jawab Muhammad.
“Kenapa engkau heran?”, tanya Umar lagi.
“Karena tubuhmu kurus, kulitmu kusam, rambutmu panjang dan tak rapi. Dimana tubuhmu yang dulu gempal, kulitmu yang dulu halus, dan rambutmu yang dulu berkilau..?”, tanya Muhammad.

Mendengar pertanyaan sahabatnya ini, Khalifah tersenyum dan menjawab, “Sahabatku, engkau akan lebih heran lagi melihat keadaanku nanti, yakni setelah tiga hari kematianku, dimana kedua mataku menyusut ke dalam pipi, sementara belatung dan cacing menempati hidung dan mulutku…”

Suatu malam, ketika Umar tengah menekuni tumpukan dokumen negara yang harus dia baca dan buat rekomendasinya, seorang saudaranya datang. Setelah mempersilahkan duduk, Umar bertanya, “Ada keperluan apa, wahai saudaraku? Apakah menyangkut urusan pribadi atau kepentingan negara?”. “Aku datang untuk keperluan pribadi” jawab saudaranya.
Tiba-tiba Umar mematikan lampu di meja kerjanya, yang hanya satu-satunya itu. Ruangan pun menjadi gelap gulita. Saudaranya kaget dan bingung, lantas bertanya, “mengapa engkau matikan lampunya??”
Umar terdiam, kemudian bicara perlahan, “Saudaraku, bukankah engkau datang untuk keperluan pribadi, tak ada kaitannya dengan urusan negara? Oleh karena itu aku mematikan lampu, agar kita tidak menyalahgunakan harta kekayaan negara…”
Itulah jawaban mulia dari seorang Khalifah berjiwa mulia.

Di lain waktu, Khalifah Umar mengadakan rapat dengan para pejabat negara. Dalam acara itu, para tamu dihidangkan buah-buahan. Puteri Umar yang masih kecil tergiur melihat buah apel merah yang dihidangkan. Dia merengek kepada ibunya agar diambilkan satu saja. Si ibu tak mau, anaknya pun menangis. Si ibu mencoba membujuknya dengan halus, tetapi si anak malah tambah menangis. Terpaksalah si ibu, istri Khalifah, dengan berat hati mengambilkannya satu buah apel untuk menghentikan tangis anaknya.
Melihat itu, Khalifah Umar menahan tangan istrinya, sembari berbisik, “ Istriku… apakah kamu mau mengambil harta negara untuk kepentingan keluarga kita? Demi Allah, janganlah kamu memberi api neraka ini kepada anak kita…”

Pada hari berikutnya, Umar kedatangan seorang ibu tua. Dia suguhi wanita itu dengan serenteng anggur. Setiap memakan sebuah, wanita itu mengucap, “Alhamdulillah”, hingga anggur itu habis. Umar gembira melihatnya. “Ada gerangan apa ibu datang ke sini?”, tanya Umar.
“Saya punya lima anak, dan tidak ada satu pun yang mempunyai pekerjaan. Bantulah kami, wahai Amirul Mukminin…”
Umar tersentak, kemudian terdiam. Tampak air mata meleleh di pipinya. Ia merasa bersalah, karena sebagai kepala negara sampai tidak tahu ada rakyatnya yang masih menganggur tidak mendapat pekerjaan.

“Coba sebutkan nama anak ibu yang pertama,” tanya Umar kepada ibu tadi.
Disebutlah oleh ibu itu nama anak pertamanya. Umar menuliskannya dalam selembar kertas disertai jumlah bantuan modal kerja yang akan diberikan. Keputusan itu disambut dengan ucapan “alhamdulillah” oleh wanita itu. Disebutkannya pula anak nomor dua, nomor tiga, dan nomor empat. Oleh Umar masing-masing anak ditetapkan jumlah bantuannya, dan selalu dijawab “alhamdulillah” oleh ibu tersebut.
Ketika Umar menuliskan untuk anak yang nomor lima, saking girangnya, ibu itu buru-buru membungkuk-bungkuk seraya berkata, “Terima kasih tuan, terima kasih tuan.”
Mendadak Umar menyobek kertas yang kelima itu. Ibu itu tersentak kaget. “Ada apa tuanku?” tanya wanita itu keheranan.
Umar menjawab, “Dari anak pertama sampai anak keempat, ibu selalu mengucap “alhamdulillah”, suatu pernyataan syukur kepada Dzat yang berhak menerimanya. Karena Dia-lah pada dasarnya yang mempunyai kuasa memberi dan mengambil. Tetapi giliran anak kelima, ibu malah berterima kasih kepada saya. Apa sebabnya?”

“Karena tuan amat dermawan dan berhati mulia,” jawab wanita itu.
“Maaf, ucapan itu tidak layak ibu tujukan kepada saya. Apalah saya ini sampai ibu memuji-muji saya? Bukankah segala puji itu milik Allah? Saya ini tidak ada bedanya dengan ibu. Bahkan di hadapan Allah mungkin saya ini lebih hina; karena hisab ibu ringan sementara hisab saya berat sekali. Untuk itu, saya hanya berkewajiban memberi bantuan kepada empat orang anak ibu saja, sebab hanya untuk mereka berempat ibu berterima kasih kepada Dzat yang memang layak dipuji. Tetapi, hendaknya bantuan saya ini dibagikan secara adil untuk modal seluruh keluarga.”

Umar bin Abdul Aziz telah mempersembahkan jiwa dan raganya demi kepentingan rakyatnya. Dia bekerja keras dari pagi hingga petang. Sore hari dia mengurusi kebutuhan keluarganya sebentar, lantas melanjutkan bekerja mengurusi rakyat hingga malam hari. Di malam hari dia tidur sebentar, merebahkan diri berbantalkan tangan sembari membaca zikir, air matanya pun membasahi kedua pipinya.
Tengah malam dia bangun untuk qiyamul-lail, berdzikir, berdoa untuk rakyatnya, diselingi tangis pengaduan kepada Rabb-nya, begitulah hingga shalat tubuh tiba. Lalu siang harinya, dia berpuasa.

Pernah suatu kali, Fatimah istrinya, bertanya, “Suamiku, mengapa setiap malam engkau menangis?”
Umar menjawab, “Istriku, disetiap tidurku aku selalu bermuhasabah. Aku merasakan betapa berat beban amanah yang harus kupikul. Aku membayangkan ada rakyatku yang fakir dan papa, ada anak-anak yatim yang tak terurus, ada perantau yang terdampar dan tersesat, ada tawanan yang nestapa, dan ada orang-orang menderita lainnya di seluruh penjuru negeri ini, lantas aku menyadari bahwa Allah akan meminta tanggung jawabku atas mereka ini semua. Ini yang membuatku takut tak mampu mempertanggung jawabkan di hadapan-Nya. Aku gemetar setiap mengingat ini semua. Aku tambah takut kepada Allah. Aku menangis tersedu-sedu setiap malam…
Istriku, aku mohon engkau memaklumi aku…”

Umar bin Abdul Aziz, seorang Kepala Negara yang sukses mensejahterakan seluruh rakyatnya dan memakmurkan negerinya, menghadap Sang Khalik dengan meninggalkan sebelas anak, masing-masing anak mendapatkan warisan hanya tiga perempat dinar.

Menjelang wafatnya, sang Khalifah berpesan kepada anak-anaknya: “Maafkan ayah, anak-anakku. Ayah tidak memiliki harta yang dapat diwariskan untuk kalian…
Apabila kalian bersabar, insya Allah, surga Allah telah menanti kalian…”

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>