Jan 232011
 
Apakah gerangan yang menyebabkan manusia-manusia,
Sebelumnya tak saling mengenal, sejenak
Saling memandang, lalu berkehendak,
Tak akan berpisah selama-lamanya?
Apakah gerangan yang mengharukan hati,
Waktu mendengar bunyi suara,
Tak pernah di dengar sebelumnya,
Lama bak rekuiem berdesing di telinga kami?
Apakah gerangan yang membuat jiwa,
Dalam gembira ria melambung tinggi,
Membuat hati hebat berdetak?
Bila sepasang mata,
Manis memandang mata kami,
Dan kami teringat jabat tangan hangat?
Tahukah kau, samudera biru,
Yang mengombak dari pantai ke pantai?
Tahukah kau berkata kepadaku,
Ada dasar keajaiban itu, wahai!
Katakan padaku, angin bersayap cepat,
Dari tempat-tempat jauh kau datang,
Apakah gerangan yang tak dipanggil datang,
Selamanya mengikat hati kuat-kuat?
Wahai! Katakan, surya emas bercahaya-cahaya,
Sumber cahaya dan panas alam semesta nan kuasa,
Apa gerangan keajaiban besar itu namanya,
Yang membuat hati kita dengan nikmatnya,
Melembutkan, melupakan duka,
Yang menghampiri kita di dunia?
Sinar matahari menembus dedaunan,
Jatuh pada pasang naik bergelombang;
Menjadi serba berkilauan di sekitar, serba terang,
Di bawah sinar cahaya matahari keemasan!
Permainan permai dari cahaya dan warna,
Disaksikan mata nan gembira ria,
Dan dari dada yang terharu dalam,
Membubungkan puji syukur yang dalam!
Bukan satu keajaiban, melainkan tiga!
Berkilauan di atas indung mutiara yang cair,
Dengan huruf berlian tertulis oleh cahaya:
“Cinta, Persahabatan, Simpati!”
Cinta, Persahabatan, Simpati,
Riak ombak menggumam menirukan,
Bayu di pepohonan menyanyikan
Kepada anak manusia yang bertanya.
Manis terbelai telinga yang mendengarkan
Oleh nyanyian gelombang dan angin nan ajaib,
“Di seluruh, seluruh dunia
Jiwa yang sama akan berjumpa!”
Jiwa yang sama tak memandang warna,
Tak memandang pangkat dan tingkat,
Tetapi tangan berjabat
Dalam hal apa pun jua!
Dan bila jiwa telah berjumpa,
Tak terlepaskan lagi ikatan,
Yang mengikatnya. Dan dalam hal apa jua
Meski waktu dan jarak, tetap setia.
Suka duka ditanggung bersama,
Demikian sepanjang hidup!
Duhai! Bahagia nian bertemu dengan jiwa nan sama
Telah tersua harta terkudus.
JIWA
Kartini
Rembang, September 1904

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>